Tampilkan postingan dengan label Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hati. Tampilkan semua postingan

3 Februari 2014

Mentari Menjemput Rembulan

Lelah untuk menunggu. Ratusan bahkan ribuan baris kalimat sudah mampu memenuhi halaman koran pagi ini. tapi, tetap saja rasanya kosong aku menatap koran ini. Ingin mataku membaca sebuah berita tentang kemenangan itu. Kembali, rasanya mata ini sudah tertutup debu amat tebal atau mungkin koran ini saja yang sudah usang hingga hurufnya sudah tak terbaca.

Bila aku ingin mendengar berita tentang kemenangan itu, darimana lagi aku mampu mendengarnya. Koran pagi ini tak mau untuk aku baca. Dia engan beradu tatap denganku. Aku hilang informasi. Siapa saja tolong bantu aku menemukan kemenangannya. Kabar itu tak kunjung jua aku dengar. Aku menunggumu, menunggumu dengan sejuta bahagia yang berhasil kau temukan.

Harapan itu, ya benar harapan akan kemenanganmulah yang membuatku bersabar menunggumu dalam buncah keinginan merindukanmu bersama kemenangan yang kau dapatkan. Doaku untuk kemenanganmu itu mengalir tiada henti berdoa agar kau baik-baik saja dan mampu menggapai kemenanganmu itu. Tak ada kata yang mampu mewakili harapanku untukmu. Semoga kau baik disana. Pulanglah ketika kemenangan itu sudah kau dapat dan katakan rindu itu sudah tak tertahan untukku.

Ketika kau akan berangkat, entah airmata dari mana ini tiba-tiba mengalir begitu deras, mengalir dengan sendirinya. Aku tak ingin menangis melepasmu, aku ingin tersenyum bahwa aku rela kau akan pergi menjemput kemenanganmu. Aku yakin sebuah kerelaan dan keikhlasan akan menghasilkan sebuah kemenangan untukku dan dirimu. Saat kisah ini baru saja akan dimulai, mata dan telinga ini tak mampu menutupi apa yang diliat dan didengarnya. Dia sudah masuk ke hati dan pikiranku. Dia menggangguku! Dia, ya dia yang kau sebutkan yang terasa berbeda ditelingaku. Dia yang ada disana bersamamu. Siapapun dia, aku tak tahu. Darimana dia, akupuntak tahu. Dia hadir disaat buncah rinduku akan dirimu mencapai titik didih. Tapi, seperti kebanyakan pria yang hanya fokus pada kemenangannya saja kau pun tak mampu membaca tanda-tanda dariku. Karena percaya atau tidak sebagian besar wanita ingin dirinya dibaca namun takdir ternyata tidak berpihak pada mereka, kebanyakan pria buta akan tanda-tanda. Sungguh mengenaskan.

Aku merasa ini hanya selingan untukku merasakan kecemasan untukmu disana. Cemas akan tingkah lakumu dan cemas akan hatimu. Tak apa jika fokusmu sekarang berubah. Tetapi selayaknya alat optik yang hanya mempunyai satu fokus untuk melihat benda, kau pasti tetap mengutamakanku, bukan dia yang menjadi bayanganku.  Ketahuilah aku begitu meredam semuanya, tak ingin meledak ketika kau masih berusaha menggapai kemenanganmu. Aku masih ingin bertahan walau banyak tanya yang ingin kau jawab segera. Dikala aku menatap ombak di pantai itu seorang diri. Semburat samar bayangmu ada disana. Tersenyum dan masih sama seperti kamu yang dulu. Kamu yang masih saja mempesona. Kamu yang masih membuatku teerkesan. Kamu yang masih tetap kamu.

Aku menunggu mentari itu menjemput rembulan disini. Mentari yang sama yang menjemput rembulan disaat dia ingin pergi membawanya. Di pantai ini bersama burung camar dan ombak yang bergulumg mentari itu masih tegar diatas sana dia ingin menjemput rembulannya segera namun waktu tak kunjung jua usai. Mentari sudah rindu akan rembulannya, dia ingin segera menjemputnya. Membawa sang rembulan berlabuh di pulau kenyataan atas nama cinta.

25 Maret 2013

Sahabat Juga Butuh Dihormati

canggung
lagi-lagi canggung
apasih yang seharusnya terjadi di hadapanmu?
diam
lagi-lagi diam
apasih yang seharusnya terjadi di hadapanmu?
canggung dan diam seperti ini?
aku manusia butuh dihargai
jika kamu ingin aku menghargaimu maka hargai aku
jika kamu tidak menghargaiku maka aku bisa lebih tidak menghargaimu
aku diam
kamu diam
aku canggung
kamu canggung
lalu?
sama sama canggung dan diam seperti ini
aku temanmu mungkin sahabatmu
tapi aku manusia yang butuh dihargai
kamu temanku mungkin sahabatku
tapi kamu manusia yang bisa menghargai
jika kamu diamkan aku maka aku akan lebih mendiamkanmu
cukup tahu
aku memang tak sebaik teman-teman lainnya aku hanya parasit yang menghinggapimu
tapi aku punya hati
hargai aku
cukup itu
bila aku salah ingatkan bukan diamkan
bila aku salah katakan bukan tinggalkan
cukup
diam saja
aku sekarang igin diam

23 Maret 2013

Diam Bukan Berarti Tidak Ada Apa-apa

Aku pikir ini hanya sebuah kata yang aku dengar dan kau anggap itu sebuah lelucon yang mungkin dapat mencairkan suasana yang kaku antara aku dan kamu. Ucapan yang aku biarkan namun selalu kau ulangi. Cukup sabar aku mendengar semua itu. Aku tahu maksudmu tapi aku punya hati yang tidak mungkin sakit bila diiris berkali-kali. Aku takut jika ini selalu berulang.

Kondisi kita antara aku dan kamu yang tidak tahu apakan aku masih bisa menebalkan hatiku untuk menerima irisan itu lagi? Mungkin kemarin adalah puncaknya. Aku tidak ingin mengatakan ini sebenarnya. Tapi aku sudah tidak kuat, aku lelah. Ya, aku lelah harus diam karena aku tak ingin mengatakannya karena aku tak ingin kau tersinggung dan menganggapku seorang anak kecil yang tak bisa membedakan kata lelucon dan kata cemooh.

Tapi untuk ukuran anak kecil sepertiku aku cukup pintar untuk tahu bahwa ucapan yang ku dengar tidak menghargaiku sama sekali dan itu dihadapan orang lain. Apa tidak terpikir di otakmu? Apa matamu tak melihat? Aku diam bukan berarti aku tidak apa-apa, bukan karena aku memang ingin diam. Aku diam karena aku tidak suka akan caramu. Caramu memperlakukan aku.

Layaknya wanita aku bisa menerimamu karena hatiku mengatakan "Aku mencintaimu". Tapi apa hanya dengan sekedar kata itu kita bisa selalu bersama. Tidak adakah saling menghargai dan simpati antara satu dengan yang lainnya. Aku tidak harus dihormati hingga badanmu membungkuk bak menghormati putri raja TIDAK! Aku hanya ingin rasa saling menghormati yang tidak membuat telinga dan hati ini menangis. Aku ingin tutur kata yang lebih halus. Aku wanita bukan teman lelakimu. Aku kekasih bukan teman mainmu. Aku sahabat bukan teman sesukamu.  Aku wanita yang menanti kelembutan bukan perintah atau kata tak sopan.

Jika memang tidak bisa dan merasa ini berlebihan silahkan pergi. Jika memang tidak bisa menerimaku karena aku anak kecil yang manja silahkan pergi. Biarkan disini aku bersama perasaan seorang wanita.