Lelah untuk menunggu. Ratusan bahkan ribuan baris kalimat sudah mampu memenuhi halaman koran pagi ini. tapi, tetap saja rasanya kosong aku menatap koran ini. Ingin mataku membaca sebuah berita tentang kemenangan itu. Kembali, rasanya mata ini sudah tertutup debu amat tebal atau mungkin koran ini saja yang sudah usang hingga hurufnya sudah tak terbaca.
Bila aku ingin mendengar berita tentang kemenangan itu, darimana lagi aku mampu mendengarnya. Koran pagi ini tak mau untuk aku baca. Dia engan beradu tatap denganku. Aku hilang informasi. Siapa saja tolong bantu aku menemukan kemenangannya. Kabar itu tak kunjung jua aku dengar. Aku menunggumu, menunggumu dengan sejuta bahagia yang berhasil kau temukan.
Harapan itu, ya benar harapan akan kemenanganmulah yang membuatku bersabar menunggumu dalam buncah keinginan merindukanmu bersama kemenangan yang kau dapatkan. Doaku untuk kemenanganmu itu mengalir tiada henti berdoa agar kau baik-baik saja dan mampu menggapai kemenanganmu itu. Tak ada kata yang mampu mewakili harapanku untukmu. Semoga kau baik disana. Pulanglah ketika kemenangan itu sudah kau dapat dan katakan rindu itu sudah tak tertahan untukku.
Ketika kau akan berangkat, entah airmata dari mana ini tiba-tiba mengalir begitu deras, mengalir dengan sendirinya. Aku tak ingin menangis melepasmu, aku ingin tersenyum bahwa aku rela kau akan pergi menjemput kemenanganmu. Aku yakin sebuah kerelaan dan keikhlasan akan menghasilkan sebuah kemenangan untukku dan dirimu. Saat kisah ini baru saja akan dimulai, mata dan telinga ini tak mampu menutupi apa yang diliat dan didengarnya. Dia sudah masuk ke hati dan pikiranku. Dia menggangguku! Dia, ya dia yang kau sebutkan yang terasa berbeda ditelingaku. Dia yang ada disana bersamamu. Siapapun dia, aku tak tahu. Darimana dia, akupuntak tahu. Dia hadir disaat buncah rinduku akan dirimu mencapai titik didih. Tapi, seperti kebanyakan pria yang hanya fokus pada kemenangannya saja kau pun tak mampu membaca tanda-tanda dariku. Karena percaya atau tidak sebagian besar wanita ingin dirinya dibaca namun takdir ternyata tidak berpihak pada mereka, kebanyakan pria buta akan tanda-tanda. Sungguh mengenaskan.
Aku merasa ini hanya selingan untukku merasakan kecemasan untukmu disana. Cemas akan tingkah lakumu dan cemas akan hatimu. Tak apa jika fokusmu sekarang berubah. Tetapi selayaknya alat optik yang hanya mempunyai satu fokus untuk melihat benda, kau pasti tetap mengutamakanku, bukan dia yang menjadi bayanganku. Ketahuilah aku begitu meredam semuanya, tak ingin meledak ketika kau masih berusaha menggapai kemenanganmu. Aku masih ingin bertahan walau banyak tanya yang ingin kau jawab segera. Dikala aku menatap ombak di pantai itu seorang diri. Semburat samar bayangmu ada disana. Tersenyum dan masih sama seperti kamu yang dulu. Kamu yang masih saja mempesona. Kamu yang masih membuatku teerkesan. Kamu yang masih tetap kamu.
Aku menunggu mentari itu menjemput rembulan disini. Mentari yang sama yang menjemput rembulan disaat dia ingin pergi membawanya. Di pantai ini bersama burung camar dan ombak yang bergulumg mentari itu masih tegar diatas sana dia ingin menjemput rembulannya segera namun waktu tak kunjung jua usai. Mentari sudah rindu akan rembulannya, dia ingin segera menjemputnya. Membawa sang rembulan berlabuh di pulau kenyataan atas nama cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar