Untuk hari ini, aku mulai bertanya. Akan seperti apakah akhir sebuah kisah ini. Sebuah rambu yang kau berikan mengkhayalkan banyak hal tentang arti adanya kamu untukku dan adanya aku untukmu. Suatu ketika ketika kita sedang duduk memandang matahari itu, aku bergumam "Akankah dia yang menjadi tujuanku?".
Dengan tatapan dan sinar matamu yang cerah aku berani berpikir bahwa dirimu juga menginginkanku menggapaimu. Sudah lama sepertinya setelah aku dan kamu pergi menatap matahari sore itu di pantai. Kamu, masihlah kamu yang dulu. Dengan kesederhanaan dan perhatian yang selalu kau tunjukkan. Kenyamanan selalu saja ada disetiap waktu menghampiri adanya aku dan kamu.
Sayang, aku masih tetap takut menggantungkan tujuanku kepadamu. Aku tahu jika tujuanku adalah kamu maka aku akan membuatmu bimbang. Masih banyak yang belum kau ketahui tentangku. Apa benar? Kurasa memang benar. Belum banyak yang kau tahu untukku. Aku rasa setiap saat waktuku terlintas kamu, hanya kamu.
Bukannya aku ragu, tapi matahari sore itu di tepi pantai mengatakan padaku bahwa aku tidaklah boleh membuatmu menujuku. Aku selalu bisa merasa bahwa akulah tujuanmu, tapi apakah aku harus membuatmu berpikir untuk kedua kalinya bahwa kamu harus bisa memahami isi hatiku.
Matahari sore itu mengernyitkan keningnya unttuk mu. Dia pikir kamu adalah sesosok makhluk tampan yang terpesona pada gadis ingusan yang tak tahu tentang arti dunia. Dia berkata padaku "Apakah iya dia mencintaimu?"
Ya, aku rasa dia memang benar mencintaiku. Tapi aku memang sempat mengecewakannyadan bahkan membuatnya meragu. Ya, inilah aku dengan segala keterbatasanku yang mungkin tak akan berubah sampai kapanpun. Aku tetap akan mengecewakanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar