4 Februari 2014

Puisi Pagi Ini


Arti Rinduku

Untuk malam yang tak kunjung datang
Untuk angin yang tak kunjung berhembus
Untuk kabar yang tak kuncung bersua
Aku masih menanti
Malam berangin membawa kabar tentangmu
Sayang dengarlah,
Aku merindu hadirmu
Sayang lihatlah,
Aku ingin memelukmu
Sayang, aku rindu
Demi mawar yang akan mekar esok hari
Aku ingin mencium aromamu
Demi sungai yang tak pernah berhenti mengalir
Aku ingin selamanya bersamamu
Mengerti arti hadirmu untukku
Aku merindu
Menyeka susah yang menghiasi raut ayu mu
Memberikan tentram untuk damaimu
Datanglah sayang
Aku merindu


*Bulan Grahani Putri*
Semarang
Februari, 2014

3 Februari 2014

Mentari Menjemput Rembulan

Lelah untuk menunggu. Ratusan bahkan ribuan baris kalimat sudah mampu memenuhi halaman koran pagi ini. tapi, tetap saja rasanya kosong aku menatap koran ini. Ingin mataku membaca sebuah berita tentang kemenangan itu. Kembali, rasanya mata ini sudah tertutup debu amat tebal atau mungkin koran ini saja yang sudah usang hingga hurufnya sudah tak terbaca.

Bila aku ingin mendengar berita tentang kemenangan itu, darimana lagi aku mampu mendengarnya. Koran pagi ini tak mau untuk aku baca. Dia engan beradu tatap denganku. Aku hilang informasi. Siapa saja tolong bantu aku menemukan kemenangannya. Kabar itu tak kunjung jua aku dengar. Aku menunggumu, menunggumu dengan sejuta bahagia yang berhasil kau temukan.

Harapan itu, ya benar harapan akan kemenanganmulah yang membuatku bersabar menunggumu dalam buncah keinginan merindukanmu bersama kemenangan yang kau dapatkan. Doaku untuk kemenanganmu itu mengalir tiada henti berdoa agar kau baik-baik saja dan mampu menggapai kemenanganmu itu. Tak ada kata yang mampu mewakili harapanku untukmu. Semoga kau baik disana. Pulanglah ketika kemenangan itu sudah kau dapat dan katakan rindu itu sudah tak tertahan untukku.

Ketika kau akan berangkat, entah airmata dari mana ini tiba-tiba mengalir begitu deras, mengalir dengan sendirinya. Aku tak ingin menangis melepasmu, aku ingin tersenyum bahwa aku rela kau akan pergi menjemput kemenanganmu. Aku yakin sebuah kerelaan dan keikhlasan akan menghasilkan sebuah kemenangan untukku dan dirimu. Saat kisah ini baru saja akan dimulai, mata dan telinga ini tak mampu menutupi apa yang diliat dan didengarnya. Dia sudah masuk ke hati dan pikiranku. Dia menggangguku! Dia, ya dia yang kau sebutkan yang terasa berbeda ditelingaku. Dia yang ada disana bersamamu. Siapapun dia, aku tak tahu. Darimana dia, akupuntak tahu. Dia hadir disaat buncah rinduku akan dirimu mencapai titik didih. Tapi, seperti kebanyakan pria yang hanya fokus pada kemenangannya saja kau pun tak mampu membaca tanda-tanda dariku. Karena percaya atau tidak sebagian besar wanita ingin dirinya dibaca namun takdir ternyata tidak berpihak pada mereka, kebanyakan pria buta akan tanda-tanda. Sungguh mengenaskan.

Aku merasa ini hanya selingan untukku merasakan kecemasan untukmu disana. Cemas akan tingkah lakumu dan cemas akan hatimu. Tak apa jika fokusmu sekarang berubah. Tetapi selayaknya alat optik yang hanya mempunyai satu fokus untuk melihat benda, kau pasti tetap mengutamakanku, bukan dia yang menjadi bayanganku.  Ketahuilah aku begitu meredam semuanya, tak ingin meledak ketika kau masih berusaha menggapai kemenanganmu. Aku masih ingin bertahan walau banyak tanya yang ingin kau jawab segera. Dikala aku menatap ombak di pantai itu seorang diri. Semburat samar bayangmu ada disana. Tersenyum dan masih sama seperti kamu yang dulu. Kamu yang masih saja mempesona. Kamu yang masih membuatku teerkesan. Kamu yang masih tetap kamu.

Aku menunggu mentari itu menjemput rembulan disini. Mentari yang sama yang menjemput rembulan disaat dia ingin pergi membawanya. Di pantai ini bersama burung camar dan ombak yang bergulumg mentari itu masih tegar diatas sana dia ingin menjemput rembulannya segera namun waktu tak kunjung jua usai. Mentari sudah rindu akan rembulannya, dia ingin segera menjemputnya. Membawa sang rembulan berlabuh di pulau kenyataan atas nama cinta.

11 September 2013

Kata Matahari

Untuk hari ini, aku mulai bertanya. Akan seperti apakah akhir sebuah kisah ini. Sebuah rambu yang kau berikan mengkhayalkan banyak hal tentang arti adanya kamu untukku dan adanya aku untukmu. Suatu ketika ketika kita sedang duduk memandang matahari itu, aku bergumam "Akankah dia yang menjadi tujuanku?".

Dengan tatapan dan sinar matamu yang cerah aku berani berpikir bahwa dirimu juga menginginkanku menggapaimu. Sudah lama sepertinya setelah aku dan kamu pergi menatap matahari sore itu di pantai. Kamu, masihlah kamu yang dulu. Dengan kesederhanaan dan perhatian yang selalu kau tunjukkan. Kenyamanan selalu saja ada disetiap waktu menghampiri adanya aku dan kamu.

Sayang, aku masih tetap takut menggantungkan tujuanku kepadamu. Aku tahu jika tujuanku adalah kamu maka aku akan membuatmu bimbang. Masih banyak yang belum kau ketahui tentangku. Apa benar? Kurasa memang benar. Belum banyak yang kau tahu untukku. Aku rasa setiap saat waktuku terlintas kamu, hanya kamu.

Bukannya aku ragu, tapi matahari sore itu di tepi pantai mengatakan padaku bahwa aku tidaklah boleh membuatmu menujuku. Aku selalu bisa merasa bahwa akulah tujuanmu, tapi apakah aku harus membuatmu berpikir untuk kedua kalinya bahwa kamu harus bisa memahami isi hatiku.

Matahari sore itu mengernyitkan keningnya unttuk mu. Dia pikir kamu adalah sesosok makhluk tampan yang terpesona pada gadis ingusan yang tak tahu tentang arti dunia. Dia berkata padaku "Apakah iya dia mencintaimu?"
Ya, aku rasa dia memang benar mencintaiku. Tapi aku memang sempat mengecewakannyadan bahkan membuatnya meragu. Ya, inilah aku dengan segala keterbatasanku yang mungkin tak akan berubah sampai kapanpun. Aku tetap akan mengecewakanmu.

31 Maret 2013

Shimponi Jingga

Selamat hari Minggu manis semuanya :)
Gimana kabar weekend kalian ? Pasti seru. Sama serunya dengan weekendku, kemarin aku dan mas Radit berencana buat hunting foto bareng mbak Pus sama mas Fahmi. Setelah muter-muter bingung nyari tempat mau dimana akhirnya asal jalan aja kemana maunya. Ketemu deh di Shimponi perumahan dekat Water Blaster. Sampai disana kami pun masih bingung mau di sebelah mana. Akhirnya ketemu sebuah bukit yang blusuk (nyempil) disana ada papan nama Grand Candhi Golf gede bgt. Tanpa menyia-nyiakan waktu mulailah kami beraksi. Ceprat-cepret sana sini tak terasa adzan Maghrib sudah berkumandang saatnya keluar dari area itu karena cepat atau lambat kami pasti akan digusur oleh bapak-bapak satpam hahahaha.
Perjalan kami lanjutkan ke daerah Simpang Lima. Salat magrib di masjid Baitulrahman dulu setelah itu baru jalan-jalan di lapangan Simpang Lima. Karena lapar yang tiba-tiba datang menyeruak maka kami memutuskan untuk mengisi perut yang kosong ini dengan Soto Neon di daerah Pringgading. Kenyaaaang :D.
Niatan mau nongkrong di Banjir Kanal Barat eh malah petir sudah menyambar-nyambar ya sudah berakhirlah perjalanan kami Sabtu kemarin. Weekend yang menyenangkan :)



















25 Maret 2013

Sahabat Juga Butuh Dihormati

canggung
lagi-lagi canggung
apasih yang seharusnya terjadi di hadapanmu?
diam
lagi-lagi diam
apasih yang seharusnya terjadi di hadapanmu?
canggung dan diam seperti ini?
aku manusia butuh dihargai
jika kamu ingin aku menghargaimu maka hargai aku
jika kamu tidak menghargaiku maka aku bisa lebih tidak menghargaimu
aku diam
kamu diam
aku canggung
kamu canggung
lalu?
sama sama canggung dan diam seperti ini
aku temanmu mungkin sahabatmu
tapi aku manusia yang butuh dihargai
kamu temanku mungkin sahabatku
tapi kamu manusia yang bisa menghargai
jika kamu diamkan aku maka aku akan lebih mendiamkanmu
cukup tahu
aku memang tak sebaik teman-teman lainnya aku hanya parasit yang menghinggapimu
tapi aku punya hati
hargai aku
cukup itu
bila aku salah ingatkan bukan diamkan
bila aku salah katakan bukan tinggalkan
cukup
diam saja
aku sekarang igin diam

23 Maret 2013

Diam Bukan Berarti Tidak Ada Apa-apa

Aku pikir ini hanya sebuah kata yang aku dengar dan kau anggap itu sebuah lelucon yang mungkin dapat mencairkan suasana yang kaku antara aku dan kamu. Ucapan yang aku biarkan namun selalu kau ulangi. Cukup sabar aku mendengar semua itu. Aku tahu maksudmu tapi aku punya hati yang tidak mungkin sakit bila diiris berkali-kali. Aku takut jika ini selalu berulang.

Kondisi kita antara aku dan kamu yang tidak tahu apakan aku masih bisa menebalkan hatiku untuk menerima irisan itu lagi? Mungkin kemarin adalah puncaknya. Aku tidak ingin mengatakan ini sebenarnya. Tapi aku sudah tidak kuat, aku lelah. Ya, aku lelah harus diam karena aku tak ingin mengatakannya karena aku tak ingin kau tersinggung dan menganggapku seorang anak kecil yang tak bisa membedakan kata lelucon dan kata cemooh.

Tapi untuk ukuran anak kecil sepertiku aku cukup pintar untuk tahu bahwa ucapan yang ku dengar tidak menghargaiku sama sekali dan itu dihadapan orang lain. Apa tidak terpikir di otakmu? Apa matamu tak melihat? Aku diam bukan berarti aku tidak apa-apa, bukan karena aku memang ingin diam. Aku diam karena aku tidak suka akan caramu. Caramu memperlakukan aku.

Layaknya wanita aku bisa menerimamu karena hatiku mengatakan "Aku mencintaimu". Tapi apa hanya dengan sekedar kata itu kita bisa selalu bersama. Tidak adakah saling menghargai dan simpati antara satu dengan yang lainnya. Aku tidak harus dihormati hingga badanmu membungkuk bak menghormati putri raja TIDAK! Aku hanya ingin rasa saling menghormati yang tidak membuat telinga dan hati ini menangis. Aku ingin tutur kata yang lebih halus. Aku wanita bukan teman lelakimu. Aku kekasih bukan teman mainmu. Aku sahabat bukan teman sesukamu.  Aku wanita yang menanti kelembutan bukan perintah atau kata tak sopan.

Jika memang tidak bisa dan merasa ini berlebihan silahkan pergi. Jika memang tidak bisa menerimaku karena aku anak kecil yang manja silahkan pergi. Biarkan disini aku bersama perasaan seorang wanita. 

17 Maret 2013

Nopal Ganteng

Kali ini saya mau berbagi tentang adek kecil yang manis banget dan ganteng banget yang tiba-tiba saja meramaikan keluarga saya dengan kehadirannya. Awal mulanya dia datang karena titah mama dan papanya yang menitipkan adek ganteng ini kepada ibu saya setiap hari senin-sabtu. Karena kesibukan orang tua adek ganteng ini jadi dititpkan deh sama ibu saya.
Baru sehari ada di rumah saya, adek ganteng yang satu ini sudah punya banyak fans. Dari ibu-ibu tetangga sebelah rumah sampai anak-anak tetangga yang doyan bgt main di rumahku sekarang dan yang mereka cari cuman satu NOVAL. Ya nama adek ganteng ini Noval tapi gara-gara dia punya banyak fans namanya pun jadi banyak juga kayak Nopal (panggilan kesukaan saya dan adik saya), Empal (kesukaan ibu saya), Adek ganteng (kesukaan anak-anak tetangga), dan yang paling aneh Mr. Bean Jr (kesukaan bapak) hahahaha :D
Pokoknya setelah kehadiran ini anak rumah saya tidak pernah sepi pengunjung dan banyak juga kejadian-kejadian dan kejutan lucu serta menghibur dari adek ganteng ini. Karenanya saya jadi betah banget tinggal di rumah apalagi semenjjak kegiatan kampus saya sudah tidak sepadat dulu rasanya kangeeeeennnn terus kalau sama Nopal alias Mr. Bean Jr ini :*
Ayok kenalan sama adek ganteng :)